Sejarah Penestanan

Standard

 

Sumber sejarah yang memberikan keterangan secara pasti tentang pendirian Pura – Pura yang ada di Desa Pakraman Penestanan, tidak banyak diperoleh baik dari abad – abad maupun naskah – naskah kuno tentang yang berkaitan dengan keberadaan Desa Pakraman Penestanan.

Menurut cerita dari para orang tua ( penglingsir ) di Penestanan maupun penglingsir Puri terutama penglingsir Puri Agung Ubud, wilayah Penestanan dulunya merupakan hutan belantara yang merupakan pesisi atau perbatasan antara kerajaan Ubud dengan kerajaan Mengwi, sedangkan pemukiman atau desanya dulu adanya diwilayah Pacekan yang sekarang lebih dikenal dengan nama Subak Pacekan yaitu daerah persawahan yang berada disisi timur Penestanan.

Keberadaan wilayah Penestanan tidak terlepas dari adanya perjalanan dari Pendeta Hindhu dari Jawa Dwipa yaitu Rsi Markandya. Sekembalinya Beliau dari Gunung Tohlangkir
( Gunung Agung ) tiba disuatu wilayah perbukitan kecil atau Gunung Lebah yang juga merupakan tempat pertemuan dua alur sungai yaitu sungai “ Oos “, yang berasal dari kata
“Osadha“yang artinya obat.

Dari tempat tersebut yang kemudian dibangun tempat pemujaan ( ngarcana ) Hyang Betari Danu ring Gunung Batur, yang sekarang dikenal dengan nama “ Pura Gunung Lebah “. Rsi Markandya memerintahkan pengikutnya untuk merabas hutan disekitar tempat tersebut untuk dijadikan pemukiman dimana dalam perabasan tersebut diberi tanda atau patok yaitu batas selatannya dimulai  dari tempat yang berada di barat daya. Beliau beristirahat ( di Pura Gunung Lebah ) yaitu disebelah barat sungai Oos, dimana tempat tersebut kemudian diberi nama “ Pacekan atau Patok “. Sedangkan batas utaranya yaitu di Desa Puakan yang berarti perabasan yang berlokasi di wilayah Tegallalang. Wilayah tersebut juga dikenal dengan nama
“ Sarwa Ada “ atau Semua Ada tumbuh di wilayah tersebut ). Juga kemudian dikenal dengan nama “ Desa Taro “. Hingga sekarang di tempat ini juga dibangun sebuah pemujaan untuk memuja Ida Betara yang beristana di Gunung Raung di Jawa Dwipa yang merupakan asal dari para pengikut Rsi Markandya datang ke Nusa Kambang atau Bali Dwipa yang dikenal dengan nama“Pura Gunung Raung“.

Sedangkan di tempat patok atau batas selatan perabasan hutan oleh pengikut Rsi Markandya, lama – kelamaan setelah adanya penduduk yang bermukim juga dibangun tempat pemujaan khususnya oleh penduduk yang menganut aliran Siwa dimana saat itu di Bali terdapat berbagai macam aliran kepercayaan yang salah satunya adalah aliran siwa yang memuja Sang Hyang Siwa.

Dan untuk menghindari terjadinya persaingan diantara aliran – aliran kepercayaan, atas inisiatif Mpu Kuturan diadakanlah pertemuan atau pesamuan penggabungan beberapa aliran yang ada di wilayah Bali menjadi tiga ( 3 ) yaitu ; Brahma, Wisnu, Siwa yang dengan tempat pemujaannya di Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem yang disebut dengan nama “Kahyangan Tiga“.

Oleh karena itu tempat pemujaan yang dulunya khusus untuk penganut aliran Siwa di rubah statusnya menjadi tempat pemujaan umum bagi semua penduduk yang bermukim di wilayah Pacekan dan tempat pemujaan Dewa Siwa tersebut diberi nama “ Pura Dalem “, dan arena wilayah tersebut bernama “ Pacekan “ maka Pura Dalemnya diberi nama “ Pura Dalem Pacekan “. Dan untuk memuja Dewa Wisnu, tidak jauh dari tempat tersebut juga dibangun Pura Puseh yang sampai saat ini masih ada pelinggihnya. Sedangkan setra ( kuburan ) penduduk Pacekan adanya disisi timur desa tempatnya disisi barat sungai Oos yang berjarak tidak jauh dari Pura Gunung Lebah.

Dan oleh sebab yang tidak diketahui dengan pasti ( ada beberapa versi ) salah satunya ada yang mengatakan karena kawasan Pacekan diserang oleh kawanan semut, penduduknya akhirnya mengungsi termasuk tempat pemujaannya juga dipindahkan kesebelah barat sungai Wangsuh ( sekarang bernama Blangsuh ) yang merupakan aliran sungai yang melalui pangkung siap – siapan dimana tempat ini pada saat itu masih merupakan hutan dan juga ladang.

Tempat pengungsian yang kemudian dijadikan tempat pemukiman ini, kemudian diberi nama “ Penestanan “. Penestanan berasal dari kata “ Penastan “ yang berarti tempat air suci atau air amertha atau wangsuh Ida Bhatara yang digunakan dalam setiap pemujaan . Tempat atau lokasi pemukiman ini diberi nama “ Penastan “ karena dilokasi ini terdapat sungai kecil yang bernama sungai Wangsuh yang lebih dikenal dengal nama tukad Blangsuh yang mengalir dari ujung utara wilayah Penestanan dan kemudian menyatu dengan sungai Oos disisi selatan desa tepatnya di Ancut Penestanan.

Sungai Wangsuh ( Blangsuh ) merupakan penyekat atau batas antara wilayah Pacekan dengan wilayah pemukiman yang baru yaitu “ Panastan “ yang lama kelamaan menjadi “ Penestanan “. Sedangkan lokasi munculnya sumber air dari sungai Wangsuh ( Blangsuh ) diberi nama “ Beji Sudamala “ dan Pura di lokasi tersebut diberi nama “ Pura Ulun Danu “ tempat suci untuk ngarcana atau memuja Hyang Betari Danu yang merupakan Dewi pemberi kesuburan di bumi termasuk kehidupan manusia.

Pada saat terjadinya peperangan antara kerajaan Ubud melawan kerajaan Mengwi, penduduk yang bermukim disebelah barat sungai Oos banyak yang mengungsi kebarat melewati sungai Ayung termasuk penduduk Penestanan bahkan termasuk Pretima yang ada di Pura Dalem Pacekan dan Pura Puseh Penestanan yang berupa dua pasang Arca Dewa, Arca berwujud Naga Hijau dan sbuah Gada dari besi baja pun ikut dibawa atau dipundut mengungsi, yang kemudian ditempat pengungsian tersebut juga dibangun pelinggih atau tempat suci untuk ngelinggihang sekaligus memuja kebesaranNya, tepatnya di Banjar Kambang Bongkasa Badung.

Karena di tinggal mengungsi oleh sebagian besar penduduknya, wilayah pemukiman Penestanan menjadi sepi, penduduknya sangat sedikit. Hal ini membuat Raja Ubud khawatir karena bila sewaktu – waktu ada serangan dari arah barat akan sulit di bendung dan dengan mudah akan menyerang kerajaan Ubud.

Oleh karena itu diperintahkanlah penduduk dari daerah lainnya agar menetap atau bermukim diwilayah Penestanan. Selain untuk memperkuat pertahanan kerajaan Ubud terutama dari serangan musuh dari arah barat disamping ditempatkannya orang – orang batu ( teguh ) yang berasal dari Gunung Raung yang ada di Sarwa Ada ( Taro ) di pesisi barat yaitu di sisi sungai Ayung yang kemudian disebut Baung yang merupakan perbatasan sisi barat wilayah Ubud. Raja Ubud juga bekerja sama dengan Penguasa Alam Gaib ( Black Magic  atau Pangleakan ) yang ada di Griya Sanur, yang saat itu sedang mencari pusaka yang hilang. Raja Ubud bersedia membantu mencari pusaka tersebut. Sedangkan Dayu Dat ( penguasa ilmu gaib dari Sanur ) bersedia mengajarkan atau mengangkat orang Penestanan menjadi muridnya sehingga sejak saat itu kata Penestanan yang dikonotasikan atau disalah artikan dengan kata Pengleakan yaitu  Penestian. Sehingga kemudian muncullah versi lain tentang nama Penestanan yaitu versi yang mengatakan Penestanan yang berasal dari kata Penastan atau tempat air suci atau air wangsuh, seperti yang telah dijelaskan di depan. Ada juga yang menyebutkan Penestanan berasal dari kata dasar “ Desti “ yaitu “ Leak “ yang kemudian menjadi Penestian yang artinya Pengleakan, tempat angker, magis, seram dan memiliki kesaktian, sehingga penduduk Penestanan waktu itu dikenal memiliki ilmu gaib atau pengleakan, ada juga yang mengatakan gudangnya orang – orang sakti yang menguasai ilmu gaib pengleakan ( Black Magic ). Oleh karena itu Penestanan juga merupakan salah satu tempat atau Desa yang angker di Bali selain Sanur dan Nusa Penida.

Keterkaitan Puri Ubud dengan Penestanan, dari dulu memang sangat terkait, bahkan sampai sekarang keterkaitan tersebut bukan saja yang bersifat sekala tetapi juga secara niskala. Dari keterkaitan Desa Penestanan dengan Puri Ubud seperti telah diuraikan diatas, bahkan karena keterkaitan tersebut setiap ada kegiatan yang bersifat besar di Puri Ubud, masyarakat Penestanan pasti dilibatkan begitu juga sebaliknya, setiap ada kegiatan terutama yang berkaitan dengan kegiatan di keluarga dari penglingsir Puri begitu juga warga Puri lainnya juga selalu hadir dan terlibat dalam kegiatan tersebut. Oleh karena itu masyarakat Penestanan sering diistilahkan sebagai sendi pewaregan Puri Ubud yang artinya sebagai masyarakat yang selalu terlibat dalam kegiatan yang ada di Puri Ubud.

Sedangkan dari sisi niskala, adanya pelawas Ida Bhatara yang disungsung di Pura Dalem Pacekan Penestanan yang berwujud Barong Ket ( Ratu Mas / Ratu Alit ) dulunya adalah merupakan Barong yang dipergunakan untuk ngelawang bahkan dipergunakan mainan oleh Raja Bhatara di Puri Ubud, yang mana dulunya disimpan di Pura Gunung Lebah sehabis dipakai ngelawang. Lama kelamaan barong yang dipergunakan sebagai mainan tersebut , akhirnya kalinggihan atau dimasuki roh ini ditandai dari cerawisnya ( jenggotnya ) barong tersebut mengeluarkan air yang bercampur minyak dan melalui pawisik niskala Beliau menginginkan agar Beliau di sungsung atau di linggihkan ( distanakan ) di Pura Dalem Pacekan Penestanan agar beliau dapat memantau serta menghalangi musuh yang menyerang dari arah barat.

Desa Pakraman Penestanan merupakan gabungan dari dua Banjar Adat atau Banjar Pakraman yaitu ; Banjar Pakraman Penestanan Kaja dan Banjar Pakraman Penestanan Kelod. Dengan masing – masing penduduknya ; Banjar Pakraman Penestanan Kaja dengan jumlah penduduknya ; 65 krama ngarep dan 211 krama pengele, sedangkan Banjar Pakraman Penestanan Kelod dengan jumlah penduduknya ; 54 krama pengarep dan 306 krama pengele.

Desa Pakraman Penestanan memiliki satu ( 1 ) Kahyangan Tiga yaitu ; Pura Desa, Pura Puseh dan Pura Dalem tetapi memiliki 2 ( dua ) setra ( kuburan ) dan 2 ( dua ) Pura Ulun Setra
( Pura Prajapati ). Selain itu juga terdapat beberapa kahyangan yang menjadi amongan masing – masing banjar yang antara lain ; Pura Pesimpangan Ulun Danu di Penestanan Kaja, Pura Catur Bhuana di masing – masing Banjar, Pura Ratu Ngerurah di Penestanan Kaja, Pura Dalem Alit di Penestanan Kelod.